Program Studi D-3 Budidaya Tanaman Perkebunan (PS D3-BTP) merupakan salah satu program studi vokasi di Untan. PS D3-BTP berada di bawah pengelolaan Fakultas Pertanian (UPPS) yang keberadaannya memiliki peran dalam membangun sektor pertanian, khususnya subsektor perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat melalui kiprah para alumninya. Provinsi Kalimantan Barat pada umumnya masih sangat membutuhkan tenaga-tenaga lulusan PS D3-BTP pada berbagai aspek, baik ilmu pengetahuan dan teknologi, manajemen, sosial kemasyarakatan, maupun aspek lingkungan perkebunannya.
Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi terluas di Indonesia. Luas wilayahnya mencapai 146.807 km2 (7,53% dari luas Indonesia), lebih luas (1,13 kali lipat) dibanding keseluruhan provinsi di Pulau Jawa. Ketersediaan sumber daya lahan dan kesesuaian agroklimat, telah dimanfaatkan oleh pemerintah bersama masyarakat untuk mengembangkan tanaman perkebunan. Lulusan PS D3-BTP selalu dibutuhkan di Provinsi Kalimantan Barat karena selain Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah menetapkan bahwa subsektor perkebunan sebagai sektor andalan untuk menopang pembangunan wilayah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga telah menargetkan bahwa sampai tahun 2025, direncanakan akan dapat diwujudkan pengembangan tanaman perkebunan seluas 5.383.460 ha, yang meliputi tanaman komoditas unggulan berupa kelapa sawit, karet, kelapa, kakao, kopi, lada, dan aneka tanaman lain. Berdasarkan kondisi saat ini, menurut data BPS, di Kalimantan Barat terdapat sekitar 2.705.258 ha tanaman perkebunan yang terdiri atas berbagai komoditas, sehingga akan ada penambahan sekitar 2.678.202 ha perkebunan baru dengan berbagai komoditas unggulan di masa depan. Kondisi tersebut, akan memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang perkebunan.
Berbagai SDM dengan kualifikasi kompetensi teknis perkebunan akan diperlukan untuk mengisi berbagai posisi teknis di lapangan. Dengan asumsi setiap 1000 ha kebun memerlukan asisten lapangan sebanyak 3 orang, maka setidaknya di Kalimantan Barat masih akan diperlukan lebih dari 8.000 orang asisten kebun di masa depan. Di pemerintahan daerah, juga akan diperlukan banyak penyuluh perkebunan. Dengan jumlah kecamatan di Kalimantan Barat yang mencapai 161 kecamatan, maka akan diperlukan lebih dari 161 orang penyuluh perkebunan. Untuk membangun perkebunan rakyat, dengan luasnya wilayah, juga akan diperlukan banyak sekali wirausaha di bidang perkebunan. Lulusan PS D3-BTP yang memiliki kompetensi sebagai asisten lapangan, penyuluh perkebunan, dan wirausahawan bidang perkebunan, diharapkan dapat membantu menyiapkan SDM-SDM berkompeten di bidang perkebunan tersebut.
Berdasarkan kerja sama yang selama ini terjalin dengan sektor industri perkebunan terutama kelapa sawit, diketahui bahwa saat ini, untuk merekrut tenaga asisten lapangan, karena terbatasnya lulusan D3 di bidang perkebunan, mereka umumnya harus merekrut sarjana atau lulusan D3 dari bidang lain untuk dididik dan dilatih di bidang perkebunan, sehingga masih memerlukan waktu dan biaya untuk mendapatkan tenaga kerja yang siap pakai. Selain itu, berdasarkan pengabdian masyarakat yang selalu dilakukan program studi, diketahui bahwa para pekebun saat ini sangat jarang mendapatkan bimbingan dari para penyuluh perkebunan karena terbatasnya jumlah penyuluh perkebunan. Keterbatasan jumlah SDM perkebunan berkompeten yang saat ini tersedia, menjadi salah saru sebab kinerja sektor perkebunan di Kalimantan Barat, juga wilayah-wilayah lainnya di Indonesia berproduktivitas rendah.
Bertolak dari kondisi tersebut, PS D3-BTP Fakultas Pertanian Untan telah membangun komitmen untuk terus berkiprah dalam pembangunan perkebunan di Kalimantan Barat dan Indonesia dengan menyelenggarakan pendidikan di bidang perkebunan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sebagai asisten lapangan perkebunan, penyuluh perkebunan, dan wirausahawan di bidang perkebunan. PS D3-BTP juga berkomitmen untuk menghasilkan lulusan yang berkemampuan unggul, adaptif, berwawasan, dan mandiri agar mampu bekerja dalam skala lokal, nasional, hingga internasional.