
Pontianak, 27 September 2024 – Kolaborasi strategis antara Kalara Borneo dan Pusat Pengembangan Inovasi dan Inkubator Bisnis Teknologi (PPIIBT) Universitas Tanjungpura (Untan) tengah dipersiapkan dengan serius. Rencana ini bermula dari diskusi yang dipicu oleh artikel ilmiah yang ditulis oleh tim peneliti yang terdiri dari Sari Afriani, Nora Idiawati, Lia Destiarti, dan Lucy Arianie. Artikel tersebut berjudul “Uji Aktivitas Antioksidan Daging Buah Asam Paya (Eleiodoxa conferta Burret) dengan Metode DPPH dan Tiosianat” dan berhasil menarik perhatian Yohana Tamara Yunisa, CEO & Founder Kalara Borneo.
Yohana Tamara Yunisa yang bisa di panggil ara, melalui komunikasi yang sudah terjalin dengan baik dengan Fahrurajie, Ketua PPIIBT Untan, akhirnya bersepakat untuk membuka ruang diskusi untuk mengembangkan potensi Tanaman Asam Maram di lahan gambut dan Agroforestri Kakao. Diskusi tersebut tidak hanya berfokus pada edukasi dan peluang budidaya tanaman, tetapi juga riset serta inovasi di sektor agroforestri, menarik minat banyak peneliti untuk terjun dan terlibat langsung dalam penelitian dalam menjawab beberapa pertanyaan seperti apakah asam maram bisa di budidayakan? Bagaimana hubungan asosiasi antar mikroba dan asam maram di lahan gambut? Bagaimana kombinasi penanaman karet dan kakao dalam sistem agroforestri mempengaruhi produktivitas kedua komoditas tersebut? Bagaimana agroforestri berbasis karet dan kakao mempengaruhi mikroklimat lokal dan efisiensi penggunaan air di lahan pertanian? Bagaimana interaksi antara tanaman karet dan kakao dalam sistem agroforestri mempengaruhi resistensi terhadap hama dan penyakit?
Dalam pertemuan tersebut, hadir beberapa tokoh penting, seperti Dr. Ir. Hanna Artuti Ekamawanti, M.Si, seorang pakar tanaman eksotik dan mikroba hutan gambut, Kiki Prio Utomo, S.T., M.Sc., Ketua PPIIBT Untan serta Muhammad Pramulya, perwakilan Dosen D3 Budidaya Tanaman Perkebunan dari Fakultas Pertanian Untan. Kiki menilai pertemuan ini sebagai langkah awal untuk membangun roadmap riset jangka panjang bersama yang akan menjadi solusi bagi pengembangan berkelanjutan komoditas local.
Kalara Borneo, yang telah dikenal sebagai produsen sirup Asam Maram dan produk cokelat unggulan, kini berencana memanfaatkan hasil riset ini untuk memperluas hilirisasi komoditas lokal dari hutan non-kayu. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan budidaya berkelanjutan, memperkuat ekonomi masyarakat, dan menjaga kelestarian hutan gambut Kalimantan.